Tuesday, February 16, 2010

Mengetahui Papua Lebih Dekat (*)


Etnografi berasal dari kata ethnography (Inggris), yaitu ethno yang berarti bangsa atau suku bangsa dan graphy yang berarti tulisan, deskripsi. Jadi, etnografi adalah deskripsi tentang suku-suku bangsa atau kelompok masyarakat tertentu.

Penelitian etnografi adalah suatu kegiatan pengumpulan bahan keterangan yang dilakukan secara sistematis mengenai cara hidup serta berbagai kegiatan sosial yang berkaitan dengan berbagai unsur kebudayaan dari suatu masyarakat. Metode pengamatan (observasi) dan wawancara (interview) merupakan metode pengumpulan data terpenting pada penelitian etnografi. Held, Seorang ahli antropologi yang pernah bekerja di Papua pada tahun 1950an mengatakan bahwa kebudayaan orang Papua bersifat longgar. Strukturnya yang longgar itu disebabkan oleh ciri-ciri orang Papua pada umumnya “Improvisitor kebudayaan“. Hal ini disebabkan karena rata – rata orang papua gaya hidupnya berorientasi subsistens yang artinya apa yang diperoleh dipergunakan untuk hari ini, hari esok akan dicari lagi. Orientasi seperti ini disebut Orientasi Sesaat ( masa kini )

Orang Papua tidak pernah diteliti oleh para ahli mengenai cri-ciri ras. Hanya beberapa orang dokter dan ahli antropologi ragawi saja yang telah melakukan pengukuran tinggi badan dan indeks ukuran tengkorak pada beberapa individu dibeberapa tempat yang terpencar. Bahan-bahan itu belum cukup untuk mendapatkan gambaran yang menyeluruh tentang ciri-ciri fisik masyarakat di Papua.

Kata PAPUA atau “Pua-pua” Berasal Melayu kuno yang berarti Keriting atau hitam, hal ini disebabkan karena sesuai ciri – ciri umum orang papua dapat dilihat bahwa orang papua mempunyai ciri Hitam dan berambut keriting sesuai dengan arti dari Pua-Pua tersebut.

Pada masa jajahan Belanda sebelum diserahkan kembali ke pangkuan NKRI pulau Papua disebut istilah Nieuw Guinea atau papua barat. Setelah masuk menjadi bagian dari NKRI Nieuw Guinea diganti menjadi Irian Jaya dan setelah reformasi diubah menjadi Papua. Penduduk pribumi yang sekarang tinggal di Provinsi Papua dan Papua Barat merupakan Ras Papua dan Ras Melanesia.

Luas Wilayah

317,062.00

km2

Letak Geografis Provinsi


130

°

-

'

-

"

BT

s.d

141

°

-

'

-

"

BT


2

°

25

'

-

"

LU

s.d

9

°

-

'

-

"

LS

Menurut SIL (Sumer Institute of Language) bahwa Kebudayaan Papua, apabila dikategori berdasarkan kebudayaan bahasa terdapat kurang lebih sekitar 252 kebudayaan berupa bahasa. Ragam bahasa ini menurut rumpun bahasa di Papua dibagi menjadi 2 rumpun bahasa yakni Austronesia dan Non-Austronesia dan menurut famili bahasa di Papua dikategori menjadi 12 famili bahasa. Akan tetapi rataan bahasa yang digunakan sehari – hari adalah bahasa indonesia murni bercampur dialek, bahasa tertulis berupa petunjuk adat serta perbendaharaan kata yang sering digunakan umum.

Umumnya manusia pada jaman dahulu menganut kepercayaan animisme atau kepercayaan terhadap mereka yang dianggap mempunyai kekuatan seperti pohon besar, gunung, patung, sungai dan sebagainya. Kepercayaan itu timbul karena mereka beranggapan bahwa dengan memuja mereka maka mereka akan sembuh serta terbebas dari segala yang jahat.

Perkembangan selanjutnya setelah era animisme usai di Pulau Mansinam tahun 1855 lewat Ottow dan Geisler menyebar agama protestan pada tahun 1894 di papua bagian selatan di Kapaur dekat Fakfak pada untuk pertama kalinya ajaran agama Roma Khatolik disebar oleh Le Cocq d’Armandville S.J. Sedangkan di selatan papua di merauke tepatnya tahun 1905 lewat Misionaris dari belanda muncul agama kristen katolik di selatan papua.

Penyebaran agama di papua rata – rata memeluk kepercayaan Nasrani atau Kristen, yang terbagi antara Utara yang didominasi oleh agama kristen protestan dan bagian selatan yang didominasi oleh agama kristen katolik.

Tabel Penyebaran agama di papua :

Agama

Protestan (51,2%), Katolik (25,42%), Islam (23%), Budha (0,13%), Hindu (0,25%), lain-lain (1%)

Dalam system kepemimpinan tradisional di Papua mengenal 4 ( empat ) tipe kepemimpinan antara lain :

1. Sistem Big man atau pria wibawa: diperoleh melalui pencapaian. Sumber kekuasaan terletak pada kemampuan individual, kekayaan material, kepandaian berdiplomasi/pidato, keberanian memimpin perang, fisik tubuh yang besar, sifat bermurah hati (Sahlins, 1963; Koentjaraningrat, 1970; Mansoben, 1995). Pelaksanaan kekuasaan biasanya dijalankan oleh satu orang. Adapun etnik yang menganut sistem ini adalah orang Dani, Asmat, Mee, Meibrat, Muyu. (Mansoben, 1995).

2. Sistem Politik Kerajaan: sistem ini adalah pewarisan berdasarkan senioritas kelahiran dan klen. Weber (1972:126) mengatakan sebagai birokrasi patrimonial atau birokrasi tradisional . Birokrasi tradisional terdapat pada cara merekrut orang untuk duduk dalam birokrasi. Biasanya mereka yang direkrut mempunyai hubungan tertentu dengan penguasa, misalnya hubungan keluarga atau hubungan pertemanan. Di sini terdapat pembagian kewenangan tugas yang jelas, pusat orientasi adalah perdagangan. Tipe ini terdapat di Raja Ampat, Semenanjung Onin, Teluk MacCluer (teluk Beraur) dan Kaimana. (Mansoben, 1995: 48).

3. Sistem Politik Ondoafi: sistem ini merupakan pewarisan kedudukan dan birokrasi tradisional. Wilayah/teritorial kekuasaan seseorang pemimpin hanya terbatas pada satu kampung dan kesatuan sosialnya terdiri dari golongan atau sub golongan etnik saja dan pusat orientasi adalah religi. Terdapat di bagian timur Papua; Nimboran, Teluk Humboldt, Tabla, Yaona, Skou, Arso, Waris (Mansoben, 1995: 201-220).

4. Sistem Kepemimpinan Campuran. Menurut Mansoben (1985) terdapat juga sistem lain yang menampakkan ciri pencapaian dan pewarisan yang disebut sistem campuran. Sedangkan menurut Sahlins, sistem kepemimpinan yang berciri pewarisan (chief) dibedakan atas dua tipe yaitu sistem kerajaan dan sistem ondoafi. Perbedaan pokok kedua sistem politik tersebut terletak pada unsur luas jangkauan kekuasaan dan orientasi politiknya. Sistem Kepemimpinan Campuran, kedudukan pemimpin diperoleh melalui pewarisan dan pencapaian atau berdasarkan kemampuan individualnya (prestasi dan keturunan). Tipe ini terdapat pada penduduk teluk Cenderawasih, Biak, Wandamen, Waropen, Yawa, dan Maya (Mansoben, 1995:263-307).

Semoga menjadi tambahan pengetahuan bagi kita sekalian.

*( dikutip dari berbagai sumber ).

Salam.

No comments:

Lagu Kei "WATAT"

NEN NEN O DEN BE O, NEN NEN O DEN BE O TANAT NA HU DANG BO NA EN SAR O NEN O MATAM DAN BE O, NEN O MATAM DAN BE O UM VAL WAHAM DO FO MLI...